Syarat & ketentuan |Pedoman |Redaksi |Kontak Kami
Musik Tradisi
Kisah Angku Umar, Generasi Terakhir Penerus Talempong Batuang
Kamis, 15 Agustus 2013 12:11 WIB

RANAHBERITA-- Minangkabau kaya dengan alat musik tradisional. Sebagian di antaranya mulai langka dan berangsur punah. Salah satu yang kini jarang terdengar, adalah talempong batuang.

Talempong batuang merupakan sebuah alat musik tradisional khas Kota Sawahlunto yang terbuat dari batuang atau bambu. Di daerah tersebut, kini hanya tinggal beberapa orang yang mahir membuat dan memainkan alat musik tersebut.

Salah satunya adalah Umar Malin Parmato, 84 tahun. Selama puluhan tahun, ia setia menjadi penerus dan pelestari alat musik tradisional ini.

Di daerah asalnya, Silungkang, Kota Sawahlunto, ia bisa disebut sebagai generasi terakhir pelestari talempong batuang.

Angku Umar, demikian ia akrab disapa, mengenal talempong batuang dari ibunya. Ibunya kerap memainkan alat musik itu di sela-sela kegiatannya. Angku Umar yang tertarik, kemudian belajar dari sang ibunda. Tak hanya dia yang belajar, tapi dua saudara laki-lakinya juga pandai memainkan talempong batuang.

Ketiga kakak beradik ini dulunya kerap dipanggil dan dipakai jasanya saat acara-acara tradisional. "Kalau ada yang baralek (mengadakan pesta perkawinan), maarak marapulai atau babako, biasanya kami dipakai," kata ayah tujuh anak ini.

Angku Umar mengaku, dulu di rumah orang tuanya banyak talempong batuang yang mereka buat. "Tapi sayang, sejak rumah saya kebakaran sehingga semuanya hangus terbakar, tidak ada yang tersisa," ungkapnya sedih.

Kesedihannya bertambah saat salah satu adiknya meninggal pada tahun 2005. Kini hanya ia dan Basri, adiknya yang lain yang masih melestarikan talempong batuang.

Kekhawatirannya semakin besar bila mengingat usianya yang sudah tua, namun belum ada penerus yang tepat. "Sebenarnya Angku sudah mengajarkan talempong batuang pada anak dan cucu, namun yang tertarik hanya Misriani dan dua anaknya," tambahnya.

Ia juga membayangkan, jika ia dan Basri dipanggil sang kuasa kelak, talempong batuang ini akan punah. Angku Umar yang juga menguasai talempong kayu, talempong pacik dan saluang khawatir alat musik tradisi ini akan punah.

'Kepakaran' Angku Umar dengan talempong batuang cukup lengkap. Tak hanya aktif memainkan alat musik itu, Angku Umar juga kerap membuat talempong batuang jika ada yang memesan. "Waktu itu ada wisatawan asal Prancis yang ingin belajar, dan dia juga minta dibuatkan sebagai kenang-kenangan dan dibawa ke negaranya," ungkapnya.

Selain itu Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto juga pernah memesan untuk dipajang di Museum Kota Sawahlunto. "Yang mulai membuat banyak orang tahu tentang talempong batuang, setelah kami tampol di Puncak Cemara Sawahlunto. Saat itu tampil randai, diliput TVRI tahun 2010. Itu kata orang yang datang ke rumah, selain juga sudah mulai ada di internet," katanya.

Untuk membuat talempong batuang, bambu yang digunakan bukan bambu sembarangan. Haruslah yang cukup tua dan punya ciri khas tersendiri. Bambu kemudian dipotong dari pembatas ruas yang satu ke pembatas ruas lainnya, kira-kira 50-60 cm.

Bagian kulit bambu kemudian dikelupaskan dengan ukuran tertentu dan panjang tertentu. Kemudian, bambu yang dikelupaskan tersebut di pasak dengan potongan bambu kecil. Ibarat senar gitar dan dawai biola, bagian bambu yang dikelupas itu diatur nadanya. Butuh enam kali pengelupasan bambu hingga terbentuk enam tangga nada pula.

Dalam mengatur nada, Angku Umar tak pernah belajar di sanggar, ia hanya mengandalkan insting dan kepekaan telinganya. Dengan cepat Angku Umar bisa menyusun tangga nada dengan baik. Sebuah bambu lain diraut dengan diameter sebesar 1 cm, dengan panjang hampir sama dengan talempong batuang. Tongkat bambu kecil inilah yang dipakai untuk memukul bambu yang telah dibuat nadanya, hingga berirama.

Talempong batuang mulai dikenal luas pada 1990. Saat itu pemerintah Sawahlunto mencari budaya lokal untuk dikembangkan. Awalnya yang diperkenalkan oleh Angku Umar ialah marunguih, dendang saluang.

Kemudian, barulah talempong batuang. Dengan talempong batuangnya, ia pernah tampil di rumah Walikota Sawahlunto, di acara-acara budaya yang digelar pemerintah setempat, di Pekan budaya dinas Pariwisata Kota Padang dan pernah tampil juga di Malaysia melalui orkes parmato hitam.

Namun sayang, sebagai pelestari budaya tradisional yang hampir punah ia belum mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. "Dulu pernah ada bantuan dari pemerintah kota tapi tidak sampai ke tangan saya. Tak tahu dimana hilangnya. Kabar terbaru yang saya dengar akan ada reward dari kota, tapi sampai kini belum jelas."
 
Di usia nya yang tak lagi muda, Angku Umar sudah mengajarkan talempong batuang kepada sang anak, Misriani dan cucu-cucunya. Ia ingin talempong batuang ini dilestarikan. Ia ingin mendirikan sanggar untuk siapa saja yang ingin belajar talempong batuang.

Ia tak mau budaya khas Silungkang ini hilang dimakan zaman. “Silakan datang ke rumah saya di Dusun Sungai Cocang Desa Silungkang Oso, Kecamatan Silungkang, Sawahlunto. Saya senang kalau ada yang ingin belajar. Saya bersedia mengajarkan," tuturnya dengan penuh harapan. (Novia Amirah/Ed1)


Komentar

Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama:
Email:
Komentar:
×
Berita Lain